Minggu, 27 November 2016

Social Cognitive Theory

SOCIAL COGNITIVE THEORY


A.    Sejarah Singkat
Teori sosial kognitif terbentuk dalam cakupan yang luas dari konsep teori dan telah di realisasikan di beberapa bidang. Miller dan Dollart (1941) dengan jelas memperkenalkan apa yang mereka sebut dengan teori pembelajaran sosial yang menjelaskan tentang peniruan perilaku hewan dan manusia. Konsep teori pembelajaran sosial didasarkan pada prinsip pembelajaran klasik dan ide motivasi dari Hull (1943). Teori pembelajaran menjelaskan mekanisme dari perilaku.
Rotter pertama kali mengaplikasikan prinsip pembelajaran sosial pada psikologi klinik (1954). Pada tahun 1962, Albert Bandura menerbitkan sebuah artikel tentang pembelajaran sosial dan tiruannya. Bandura dan Walters (1963) mengusulkan bahwa anak-anak dapat menyaksikan anak-anak lain untuk belajar perilaku baru dan tidak membutuhkan hadiah secara langsung. Jadi, seorang anak belajar dengan cara mengobservasi perilaku anak-anak lain dan menghargai pemberian orang lain. Pada tahun 1969 Bandura mendeskripsikan dasar konsepsual untuk perubahan perilaku dengan menegaskan pada teori pembelajaran tradisional.
Mischel (1973) mengusulkan pertama kali gagasan kognitif yang membentuk sebuah dasar kognitif untuk teori sosial kognitif. Stokols (1975) mengaplikasikan konsep pembelajaran observasi pada penurunan risiko penyakit cardiovaskuler. Pada tahun 1977 Bandura menerbitkan kerangka konsep yang lebih komprehensif untuk memahami perilaku manusia berdasarkan perumusan kognitif yang diberi nama Teori Kognitif Sosial. Kerangka konsep ini adalah versi yang dominan digunakan saat ini dalam mengkaji perilaku kesehatan dan promosi kesehatan. Meskipun demikian, teori ini masih sering mengacu pada Teori Belajar Sosial.

B.     Konsep Dasar
Teori social Kognitif menjelaskan bagaimana orang-orang mendapatkan dan mempertahankan pola-pola perilaku tertentu, sementara juga menyediakan dasar bagi strategi intervensi (Bandura, 1997). Mengevaluasi perubahan perilaku tergantung pada faktor-faktor lingkungan, orang dan perilaku. Teori social Kognitif menyediakan kerangka kerja untuk merancang, melaksanakan dan mengevaluasi program.
Teori social Kognitif memberikan kerangka konsep untuk memahami, memprediksi dan merubah perilaku manusia. Teori ini mengidentifikasi bahwa perilaku manusia sebagai interaksi antara faktor personal, perilaku dan lingkungan. Teori social Kognitif sangat membantu dalam memahami dan memprediksi perilaku kelompok maupun individu dan mengidentifikasi perilaku mana yang dapat dimodifikasi atau dirubah.
Lingkungan mengacu pada faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Ada lingkungan social dan fisik. Lingkungan social termasuk anggota keluarga, teman dan masyarakat. Lingkungan fisik adalah ukuran ruangan, suhu lingkungan atau ketersediaan makanan tertentu. Lingkungan dan situasi menyediakan kerangka unntuk memahami perilaku. Situasi mengacu pada kognitif atau mental dari lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang.
Teori social Kognitif mendefinisikan perilaku manusia sebagai triadic, dinamis dan interaksi timbale balik dari faktor-faktor pribadi, perilaku dan lingkungan. Menurut teori ini, perilaku individu adalah unik ditentukan oleh ketiga faktor diatas. Sementara Teori social Kognitif perilaku mmenjunjung tinggi gagasan bahwa konsekuensi respon perilaku sebagian besar diatur melalui proses kognitif. Oleh karena itu, tanggapan konsekuensi dari perilaku yang digunakan untuk membentuk ekspetasi hasil, yang memberikan kemampuan manusia untuk memprediksi hasil dari perilaku mereka, sebelum perilaku dilakukan. Selain itu, teori kognitif social berpendapat bahwa sebagian besar perilaku dipelajari oleh dirinya sendiri.
Teori social Kognitif adalah teori belajar yang didasarkan pada ide bahwa orang belajar dengan mengamati apa yang orang lain lakukan dan bahwa proses berfikir manusia adalah pusat untuk memahami kepribadian. Sementara kognitif social setuju bahwa ada cukup banyak pengaruh pada perkembangan yang dihasilkan oleh perilaku belajar yang ditampilkan dalam lingkungan dimana seseorang tumbuh, mereka percaya bahwa individu adalah sama pentingnya dalam menentukan masalah moral.
Teori memberikan penekanan yang kuat pada kognisi seseorang yang menunjukkan bahwa pikiran adalah kekuatan aktif yang konstruktif, selektif, melakukan perilaku atas dasar – dasar nilai dan harapan. Melalui umpan balik dan timbale balik, realitas seseorang terbentuk oleh interaksi lingkungan dan kognisi seseorang. Selain itu, kognisi berubah dari waktu ke waktu sebagai fungsi pematangan dan pengalaman.
Teori kognitif social mempengaruhi perubahan melalui fase-fase:
1.      Peningkatan dan motivasi individu terhadap target perubahan perilaku
2.      Pelatihan, sehingga individu dapat memperoleh kemampuan merubah perilaku yang spesifik.
3.      Pengembangan jaringan kerjasama yang mendukung sehingga perilaku baru dapat dipelihara.
4.      Pemeliharaan perilaku melalui penguatan
5.      Penyamarataan semua tingkat interaksi, dari keluarga hingga masyarakat.
Inti dari Teori social Kognitif adalah “reciprocal determinism” antar kognisi, perilaku dan lingkungan. Tidak hanya memfokuskan pada pembentukan perilaku secara otomatis oleh kekuatan lingkungan, teori ini menekankan pentingnya proses pemikiran intervensi (informasi, penerimaan, penyimpanan dan pembenaran) dan control diri dalam menunjukkan perilaku. Pembelajaran banyak terjadi melalui symbol atau pengalaman pengalaman orang lain dipengaruhi oleh faktor social. Proses pengaturan diri, termasuk menghasilkan dorongan sendiri dan konsekuensi, ditonjolkan dalam teori ini. Perilaku dapat dijelaskan dengan istilah interaksi yang saling mempengaruhi yang terjadi secara terus – menerus antara kognitif. Perilaku dan lingkungan yang diperintah oleh self efficacy, yang merupakan mekanisme kognitif.
Self efficacy adalah merupakan konsep inti dalam pelaksanaan Teori social Kognitif di promosi kesehatan. Menurut teori ini, harapan hasil dan keyakinan sangat penting dalam merubah perilaku. Sebuah harapan hasil merupakan suatu perkiraan bahwa suatu perilaku dapat memberikan hasil. Self efficacy adalah kemampuan diri seseorang dapat dengan sukses melakukan suatu perilaku. Seseorang dengan self efficacy yang tinggi akan lebih percaya diri terhadap kemampuan mereka dalam melakukan perubahan perilaku karena itu akan lebih mudah melakukannya, dengan intensitas yang besar dan lebih mantap dalam merespon kegagalan awal daripada orang dengan self efficacy rendah.
Teori social Kognitif menjelaskan bagaimana orang memperoleh dan memelihara pola perilaku tertentu, dan juga memberikan dasar strategi intervensi. Penilaian perubahan perilaku tergantung pada faktor lingkungan, personal dan perilaku.
Model Konsep :


Menurut gambar diatas, pertama : interaksi antar personal dan perilaku melibatkan pengaruh pikiran dan tindakan seseorang. Kedua: Interaksi antara personal dan lingkungan dan melibatkan kepercayaan seseorang dan kompetensi kognitif yang dikembangkan dan dimodifikasi oleh pengaruh social dan struktur dalam lingkungan. Interaksi ketiga, yaitu antara lingkungan dan perilaku, melibatkan perilaku seseorang yang ditentukan oleh aspek lingkungan mereka dan dalam perubahannya oleh lingkungan.
Ketiga faktor tersebut (lingkungan, personal, perilaku) saling mempengaruhi secara terus menerus. Perilaku tidak semata mata hasil dari lingkungan dan personal, seperti halnya lingkungan tidak saja hasil dari personal dan perilaku. Lingkungan membentuk model untuk perilaku. Pembelajaran observasi terjadi ketika seseorang melihat tindakan orang lain dan penguatan yang diterimanya.
Terdapat 2 cara pembelajaran dalam Teori social kognitif yaitu belajar melalui pengamatan (observational learning) dan belajar melalui perbuatan (enactive learning)
1.      Observational Learning
a.       Fungsi Observational Learning
     Sebagian besar perilaku manusia dan ketrampilan kognitifnya dipelajari melalui pengamatan melalui model. Fungsi observational learning adalah sebagai berikut :
1)      Modeling dapat mengajari observer ketrampilan dan aturan-aturan berperilaku
2)      Modeling dapat menghambat ataupun memperlancar perilaku yang sudah dimiliki orang
3)      Perilaku model dapat berfungsi sebagai stimulus dan isyarat bagi orang untuk melaksanakan perilaku yang sudah dimilikinya.
4)      Modeling dapat merangsang timbulnya emosi. Orang dapat berpersepsi dan berperilaku secara berbeda dalam keadaan emosi tinggi
5)      Symbolic modeling dapat membentuk citra orang tentang realitas social karena menggambarkan hubungan manusia dengan aktivitas yang dilakukannya.
b.      Proses Observasional Learning
Belajar mencakup pemrosesan informasi. Kekuatan modeling terletak pada kemampuannya untuk mempengaruhi proses tersebut. Observasional learning memerlukan empat macam proses utama:
1)      Proses memperhatikan (attentional processes)
     Jika orang belajar melalui modeling, maka mereka harus memperhatikan dan mempersepsi  perilaku model secara tepat. Tingkat keberhasilan belajar itu ditentukan oleh karakteristik model maupun karakteristik pengamat itu sendiri. Karakteristik model yang merupakan variable penentu tingkat perhatian itu mencakup frekuensi kehadirannya, kejelasannya, daya tarik personalnya, dan nilai fungsional perilaku model itu. Karakteristik pengamat yang penting untuk proses perhatian adalah kapasitas sensorisnya, tingkat ketertarikannya, kebiasaan persepsinya dan reinforcement masa lalunya.
2)      Proses retensi (retention processes)
     Agar efektif, modeling harus disimpan dalam ingatan. Retensi ini dapat dilakukan dengan cara menyimpan informasi secara imaginal atau mengkodekan peristiwa model ke dalam symbol-simbol verbal yang mudah dipergunakan. Materi yang bermakna bagi pengamat dan menambah pengalaman sebelumnya akan lebih mudah diingat. Cara lain untuk mengingat adalah dengan membayangkan perilaku model atau dengan mempraktekkannya. Ketrampilan dan struktur kognitif pengamat dapat memperkuat retensi. Motivasi untuk belajar juga berperan dalam retensi, meskipun intensif lebih bersifat fasilitatif daripada keharusan.

3)      Proses produksi
     Pada tahap tertentu, gambaran simbolik tentang perilaku model mungkin perlu diterjemahkan ke dalam tindakan yang efektif. Pengamat memerlukan gambaran kognitif yang akurat tentang perilaku model untuk dibandingkan dengan umpan balik sensoris dari perbuatannya. Modeling korektif merupakan cara yang efektif untuk memberikan umpan balik bila pengamat melakukan kinerja yang tidak tepat. Variable pengamat yang mempengaruhi reproduksi perilaku mencakup kapasitas fisiknya, apakah perbendaharaan responnya sudah mencakup komponen-komponen respon yang diperlukan, dan kemampuannya untuk melakukan penyesuaian korektif bila mencobakan perilaku baru.
4)      Proses motivasi
     Apakah orang mempraktekkan apa yang sudah dipelajarinya atau tidak, tergantung pada motivasinya. Pengamat akan cenderung mengadopsi perilaku model jika perilaku tersebut:
a)      Menghasilkan imbalan eksternal
b)      Secara internal pengamat memberikan penilaian yang positif
c)      Pengamat melihat bahwa perilaku tersebut bermanfaat bagi model itu sendiri.
Antisipasi terhadap akibat yang positif dan negative menentukan aspek-aspek yang mana dari perilaku model itu yang diamati atau diabaikan oleh pengamat.
c.        Modeling untuk proses berpikir
     Orang dapat belajar ketrampilan berpikir dengan mengamati model. Akan tetapi, sering kali proses berpikir yang tersirat tidak terungkapkan secara memadai oleh tindakan model. Misalnya, seorang model dapat memecahkan suatu masalah secara kognitif, tetapi pengamat hanya melihat hasil tindakannya tanpa memahami proses berpikir yang menghasilkan tindakan tersebut. Satu pendekatan untuk mempelajari ketrampilan kognitif adalah dengan meminta model menuturkan apa yang dipikirkannya pada saat sedang melaksanakan kegiatan untuk mengatasi masalahnya. Keuntungan menggabungkan modeling verbal dengan modeling non-verbal adalah kemampuan modeling nonverbal untuk memperoleh dan mempertahankan perhatian, dan keefektifan perilaku fisik untuk memberikan makna tambahan pada proses kognitif. Ketrampilan kognitif pengamat akan semakin meningkat bila model mendemonstrasikan tindakan dan proses berpikirnya sekaligus, bukan hanya mendemonstrasikan tindakannya saja.
d.      Peranan Reinforcement (penguatan)
     Pandangan kognitif social adalah belajar melalui pengamatan tidak selalu memerlukan imbalan ekstrinsik. Belajar seperti ini terjadi melalui pemrosesan kognitif pada saat dan sebelum pengamat melakukan suatu respon. Dengan model operant conditioning  dari Skinner, yang hamper sama dengan belajar melalui pengamatan ini, dipandang berhasil apabila respon yang sesuai tindakan model diberi reinforcement, respon yang tidak sesuai dihukum atau tidak diberi imbalan, dan perilaku orang lain menjadi stimulus bagi respon yang cocok. Akan tetapi, penjelasan Skinner tersebut mengandung beberapa kekurangan. Pengamat mungkin tidak akan melakukan perilaku model dalam setting yang sama dengan ketika perilaku itu dicontohkan. Baik pengamat maupun model tidak akan memperoleh reinforcement. Perilaku model mungkin terjadi lagi beberapa hari atau bahkan beberapa minggu kemudian. Maka model operant tidak dapat menjelaskan bagaimana struktur respon baru itu dipelajari melalui pengamatan. Peranan utama insentif dalam observational learning adalah sebelum, bukan setelah modeling. Misalnya, perhatian pengamat dapat meningkat dengan antisipasi imbalan dari penggunaan perilaku model. Lebih jauh, imbalan yang diantisipasi itu dapat memotivasinya untuk mensimbolisasikan dan berlatih menggunakan keiatan model. Insentif itu lebihbersifat fasilitatif daripada keharusan.
2.      Enactive Learning
     Terdapat perbedaan antara pengetahuan dan ketrampilan. Dalam banyak domain, orang perlu melampaui struktur pengetahuannya untuk mengembangkan tindakan yang terampil. Pengembangan ketrampilan menuntut orang untuk memiliki konsepsi yang tepat mengenai ketrampilan yang ditargetkannya. Pengalaman merupakan kendaraan untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi ketrampilan.
a)      Fungsi konsekuensi Respon
     Teori kognitif social memandang belajar melalui konsekuensi respon sebagai suatu proses kognitif. Melalui pengalaman,orang menyadari konsekuensi positif dan negative dari tindakannya.
     Akan tetapi, proses belajar itu tidak berhenti di sini, karena orang melihat dampak responnya. Jadi reinforcement tidak otomatis memperkuat suatu kecenderungan untuk merespon, tetapi penguatan itu terjadi dengan mengubah variable kognitif dari informasi dan motivasinya. Misalnya, dengan menelaah pola pola konsekuensi respon, orang dapat melihat konsepsi dan aturan-aturan perilaku. Jika konsekuensi respon itu dianggap tinggi,maka ini mendorong dan memperkuat perilaku.
b)      Efisiensi Enactive Learning
     Orang berbeda-beda dalam kemampuannya untuk memperoleh pengetahuan dari konsekuensi respon. Mereka mungkin berbeda dalam pengetahuan dan pengalamannya sebelumnya, sehingga berbeda pula dalam kekayaan aturan yang dapat dipilihnya atau dikembangkannya untuk melaksanakan sesuatu perilaku jika atura tersebut belum dimilikinya. Belajar akan lebih efisien bila konsekuensi muncul langsung sesudah tindakan, teratur, dan tanpa dibingungkan oleh kejadian-kejadian lain. Belajar akan lebih sulit bila tindakan yang sama tidak selalu menghasilkan konsekuensi yang sama. Belajar dari pengalaman perbuatan tidak menjamin bahwa cara bertindak alternative terbaik akan dikembangkan. Belajar dari konsekuensi pengalaman berbuat akan mengembangkan ketrampilan yang memadai tetapi tidak optimal. Orang cenderung menerima solusi yang memadai bukannya terus mencari solusi yang lebih baik.
     Belajar dari konsekuensi pengalaman berbuat saja mungkin tidak akan efisien. Jika orang kekurangan kompetensi, kompetensi tersebut dapat diajarkan secara verbal dengan mengajarkan perilaku jenis mana yang fungsional. Disamping itu, orang dapat bimbingan secara fisik untuk melakukan suatu perilaku dan ambil bagian dalam prosedur modeling secara bertahap. Sebagaimana disebutkan dimuka, teori social kognitif memandang modeling, yang mengarah pada belajar dengan mengamati melalui proses simbolik, sebagai cara utama mentransmisikan bentuk-bentuk perilaku baru.
     Konsep perilaku dapat dilihat dari berbagai cara. Kemampuan berperilku artinya adalah jika seseorang akan melakukan suatu perilaku maka dia harus tahu perilaku apa itu dan memiliki kemampuan untuk melakukannya.
1.      Struktur Kepribadian
Menurut teori social kognitif, struktur kepribadian individu terdiri dari empat konsep utama yaitu:
a.       Competencies-skills
Kompetensi atau skill adalah kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk menyelesaikan dan menghadapi masslah dalam hidupnya. Kompetensi meliputi cara berpikir tentang masalah dalam kehidupan dan kemampuan bertingkah laku dalam menyelesaikan masalah. Skill adalah kompetensi yang dimiliki individu dalam konteks yang spesifik. Kompetensi diperoleh melalui interaksi social dan observasi terhadap dunia. Perkembangan kompetensi kognitif dan tingkah laku juga turut mempengaruhi delay gratification skill, kemampuan individu dalam menunda kepuasan impuls yang tidak tepat secara social atau secara potensial membahayakan diri sendiri. Delay gratification skill ditentukan oleh hasil yang diinginkan, pengalaman pribadi dimasa lalu serta observasi terhadap konsekuensi yang diterima oleh model.
b.      Belief-expectancies
Sebuah pemikiran melibatkan beliefs mengenai seperti apa dunia yang sesungguhnya dan seperti apa masa depan. Ketika beliefs diarahkan pasa masa depan maka disebut expectancies. Ekspektasi terhadap masa depan merupakan hal utama yang menentukan bagaimana kita bertingkah laku. Individu memiliki ekspektasi pada tingkah laku yang diterima oleh orang, reward dan punishment yang mengikuti tingkah laku tertentu, serta kemampuan individu untuk mengatasi stress dan tantangan. Inti dari kepribadian adalah pada perbedaan cara dimana manusia sebagai individu yang unik untuk menerima suatu situasi, mengembangkan ekspektasi mengenai keadaan yang akan datang, dan menampilkan perbedaan pola perilaku sebagai hasil dari perbedaan persepsi dan ekspektasi tersebut. Sama halnya dengan kompetensi, ekspektasi yang dimiliki individu bersifat konstektual. Bandura telah menekankan bahwa ekspektasi manusia mengenai kemampuan performanya menjadi kunci dalam prestasi manusia dan kesejahteraannya. Bandura mengacu ekspektasi tersebut sebagai persepsi dari self-efficacy. Perceived self efficacy kemudian mengacu pada persepsi seseorang terhadap kemampuan yang dimilikinya untuk bertindak dalam situasi yang akan datang. Persepsi self-efficacy menjadi sangat penting karena mempengaruhi keberhasilan seseorang.
c.       Personal Goal
Goal atau tujuan berkaitan dengan kemampuan individu untuk mengantisipasi masa depan dan untuk memotivasi dirinya sendiri. Adanya tujuan dalam hidup dapat mengarahkan individu untuk membuat prioritas, mengabaikan pengaruh-pengaruh sementara dan mengorganisasi tingkah laku selama periode waktu tertentu. Goal bukan suatu system yang kaku, melainkan individu dapat memilih tujuannya tergantung dari apa yang dinilai paling penting bagi dirinya saat itu, kesempatan apa yang tersedia di lingkungan dan penilaiannya terhadap self-efficacy dalam mencapai tujuan,sesuai dengan tuntutan lingkungan.
d.      Evaluative Standards
Individu memiliki evaluative standards yang merepresentasikan tujuan yang akan dicapai dan landasan dalam menharapkan reinforcement dari orang lain dan diri sendiri. Evaluative standards yang melibatkan pemikiran mengenai sesuatu harus seperti apa, yaitu criteria mental untuk mengevaluasi baik atau buruknya suatu peristiwa. Hal ini meliputi pengalaman akan emosi seperti malu,bangga, merasa puas atau tidak puas terhadap dirinya. Evaluative standars yang dipelajari juga meliputi prinsip-prinsip moral dan etika dalam bertingkah laku. Di dalam evaluative standards yang dimiliki seseorang terdapat pengaruh eksternal meskipun berasal dari internal individu. Evaluative standards merupakan hal yang mendasari motivasi dan performance dari seseorang. Standart evaluasi sering memicu reaksi emosional. Seseorang merasa bangga bila mencapai standart performanya dan kecewa ketika gagal mencapai standart tersebut. Hal tersebut mengarah pada self-evaluation reactions, yaitu seseorang mengevaluasi tindakannya dan kemudian berespons secara emosional (puas atau tidak puas) sebagai hasil dari evaluasi.
2.      Dinamika Kepribadian
Menurut teori social kognitif, fungsi-fungsi kompetensi,ekspektasi, goal dan evaluative standards dapat berkembang melalui observassi terhadap ornag lain maupun dari pengalaman diri sendiri. Bandura mengatakan bahwa terdapat dua prinsip teoritis yang harus digunakan untuk menganalisis dinamika proses kepribadian, yaitu penyebab perilaku yang disebut dengan reciprocal determinism. Lainnya adalah kerangka kerja untuk berpikir mengenai proses kepribadian internal yang disebut dengan cognitive-affective processing system (CAPS).
a.       Reciprocal determinism
Tingkah laku seseorang dapat dijelaskan berdasarkan interaksi antara orang dengan lingkungan. Manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan, tetapi manusia juga memilih perilaku yang akan ditampilkannya. Manusia responsive terhadap situasi dan secara aktif mengkonstruk dan mempengaruhi situasi. Bandura  tidak menggunakan prinsip faktor lingkungan yang menyebabkan suatu tingkah laku, namun terdapat hubungan timbal balik antara faktor lingkungan, tingkah laku dan personal. Personal dapat juga dalam bentuk kemampuan dalam memecahkan masalah. Sebaliknya lingkungan dan tingkah laku dapat membentuk kemampuan seseorang untuk mengantisipasi suatu masalah.
b.      Cognitive-affective processing system (CAPS)
Kepribadian harus dipahami sebagai sebuah system, yang mengacu pada sesuatu yang memiliki bagian-bagian dalam jumlah yang besar dan saling berinteraksi satu sama lain. Bagian-bagian yang saling berinteraksi tersebut sering menimbulkan bentuk yang kompleks dari suatu perilaku. CAPS memiliki tiga cirri khas, yaitu:
1)      Aspek kognitif dan emosi saling berkaitan satu sama lain. Pemikiran mengenai goals akan memicu pemikiran mengenai skills, dan akhirnya memicu pemikiran self-efficacy. Pada akhirnya mempengaruhi self-evaluations dan emosi.
2)      Aspek situasi yang berbeda mengaktivasi bagian tertentu dari keseluruhan system kepribadian.
3)      Apabila situasi yang berbeda mengaktivasi bagian tertentu dari keseluruhan system kepribadian, maka perilaku manuasi harus berbeda dari satu situasi ke situasi lainnya.


C.      Model Sosial Kognitif
        Pratkanis dan greenwald memberikan dorongan kepada penekanan dalam model cognitive social, mereka mendefinisikan sikap sebagai evaluasi orang terhadap suatu objek melalui berfikir. Walau demikian, mereka menghasilkan gambar sederhana untuk menggambarkan perkembangan teoritis di daerah kognisi social. Sikap terhadap objek digambarkan dalam memori dengan:
1.      Label objek dan tata cara yang menempel pada label objek tersebut
2.      Evaluasi singkat terhadap objek tertentu
3.      Struktur pengetahuan yang mendukung evaluasi

Struktur pengetahuan yang mendukung evaluasi

Presentasi of structure in memory                                  Function
Ø Label for the object
Ø Rules for application
Ø Evaluasi Summary
Ø Supportive knowledge structure
Ø Makes sense of world
Ø Help to deal with environment
Ø Heuristic – a simple strategy for appraising objects
Ø Schematic – organizes and guides memory for events
 




       The Socio Cognitive model of attitude structure and function
(Source : Based on suggestions by Pratkanis and Greenwald, 1989)

     Meskipun penggunaan istilah kognitif, Pratkanis dan Greenwald sebenarnya menonjolkan evaluasi. Pada beberapa sumber, bermacm-macam istilah yang digunakan hamper dapat dipertukarkan dalam mengartikan komponen ini, seperti pengaruh, evaluasi, emosi dan perasaan. Pada tahun 1989 Breckler dan Wiggins mendesak istilah yang digunakan dalam konteks ini. Mereka membedakan antara pengaruh dan evaluasi. Pembuat teori ini mengacu pada reaksi emosional terhadap obyek sikap, sedangkan yang sekarang lebih mengacu pada kekhususan pikiran, kepercayaan dan pendapat tentang obyek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Assalamualaikum,..^_^
Jika ada yang mencari materi makalah mengenai mata pelajaran SD - SMA silahkan meninggalkan pesan di komentar. Karna blog ini dibuat untuk memudahkan pembaca mencari informasi. Terimakasih
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.